Menjadi Perempuan yang Berkemajuan dalam Membangun Peradaban

Surakarta, 6 Desember  2025 — Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Averroes Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam kegiatan MIK pada pemaparan materi ke 4 yaitu dengan tema Keperempuanan dengan pemateri IMMawati Nabila Asma Darojah bertempatan di gedung H ruangan H.4.8 Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

Pada materi ke 4 ini, IMMawati Nabila menyampaikan materi tentang Keperempuanan, yang dimana menjelaskan tentang ORTOM yang menjadi wadah atau organisasi bagi perempuan yaitu Aisyiyah. Pada zaman dahulu, pendidikan hanya untuk para bangsawan, dengan berdirinya Aisyiyah yang mendirikan sebuah sekolah aksara membuka peluang untuk para perempuan mendapatkan pendidikan yang setara. IMMawati Nabila juga menjelaskan tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan memiliki pikiran dan cara pandang yang berkemajuan.

“Berkemajuan yaitu sebuah cara pandang atau gerakan yang menunjukkan kemajuan peradaban berdasarkan nilai-nilai islam yang rasional, terbuka, dan transformatif,” ujar IMMawati Nabila.

IMMawati Nabila juga menyampaikan tentang bagaimana seorang perempuan harus mampu dan memiliki pengetahuan ilmiah, mampu mewarnai peradaban tanpa adanya diskriminasi di ranah masyarakat, dan mempunyai pemikiran berkehidupan yang maju. 

IMMawat Nabila juga menjelaskan tentang kesetaraan gender dan juga keadilan, ”kesetaraan gender atau gender equality yang dimana ketimpangan gender ini hampir terjadi di seluruh Indonesia bahkan seluruh negara yang seharusnya kesetaraan gender ini dapat di rasakan semua orang.”. 

Kesetaraan merupakan keadaan saat semua orang menikmati suatu hal secara setara, sedangkan adil adalah sebuah cara bertindak untuk mencapai kesataraan. 

"Yang dimaksud kesetaraan gender ketika sudah terciptanya keadilan dan dari keadilan tersebut terciptalah kesetaraan," ujar IMMawati Nabila.

Bagaimana islam memuliakan perempuan?

IMMawari Nabila menyampaikan, "ketika ada sebuah perlombaan untuk laki-kaki dan perempuan dengan tantangan yg sama, untuk siapa yg di untungkan itu belum pasti, namum apabila dalam 1 perlombaan itu di bagi 2 jalur dengan tingkatan kesulitan yg di setarakan maka dua-duanya bisa mencapai kemenangan yg sama karena jalannya di buat adil, perempuan bukan lawannya laki-laki dan sebaliknya, tetapi untuk saling membersamai."

Salah satu kader, IMMawati Tasya, menanyakan terkait cara mengimbangkan sunnah perempuan yang di rumah saja dengan perempuan yg berkembang di luar dalam berbagai aspek.

IMMawati Nabila "Kalau perempuan hanya di rumah itu kurang relevan, jadi dalam Islam punya syarat seperti harus menutup aurat dan dijaga jangan keluar rumah tanpa menjaga aurat kalian, perempuan tidak sepenuhnya harus di rumah dan berhak didengarkan."

Materi Keperempuanan ditutup dengan diskusi dan juga tanya jawab oleh para kader. IMMawati Nabila juga mengingatkan bahwa perempuan juga layak untuk diperjuangkan dan tidak dibeda-bedakan dengan laki-laki, kita sebagai perempuan layak dan pantas juga dalam beberapa aspek.


Lebih baru Lebih lama