Dokumentasi sesi tanya jawab dan diskusi
Surakarta, 30 November 2025— Majelis Intelektual Kader (MIK) yang diselenggarakan oleh Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan (RPK) menghadirkan IMMawan Fauzan Muhammad Ihsan, Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman (TKK) Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Surakarta, sebagai pemateri pada Materi Al-Islam.
IMMawan menjelaskan bahwa seluruh bangunan keimanan seorang muslim berdiri di atas satu fondasi besar: tauhid. Ucapan “lailahaillallah” bukan sekadar menghafal kalimat syahadat, tapi menyadari dan meyakini bahwa hanya Allah satu-satunya yang pantas disembah dan diandalkan.
IMMawan Fauzan kemudian menjelaskan dua sisi tauhid yang sering tidak disadari orang: rububiyah dan uluhiyah. Tauhid rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah adalah pencipta, pengatur, dan pemelihara seluruh alam semesta. Sementara uluhiyah adalah keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati. Dua hal ini, katanya, harus berjalan beriringan agar seorang muslim benar-benar paham makna ketundukan kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa perintah pertama dalam Al-Qur’an, “Iqra!”, menunjukkan betapa pentingnya akal dalam beragama. Keimanan tidak seharusnya lahir dari ikut-ikutan atau tradisi semata, tetapi dari pemahaman yang benar.
Dari sini, IMMawan Fauzan mulai membahas tentang thagut, sesuatu yang disembah atau diikuti selain Allah. Jika pada masa jahiliyah thagut berbentuk patung, maka hari ini bentuknya jauh lebih halus—harta, jabatan, gengsi, ambisi, bahkan rasa ingin dipuji. Banyak orang, ucapnya, yang dalam hidupnya menghalalkan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka tidak sadar bahwa hal-hal yang dikejar itu bisa berubah menjadi “sesembahan” yang menjauhkan mereka dari Allah. Inilah sebabnya akal dan tauhid harus saling menguatkan, agar seorang muslim bisa tetap lurus di tengah godaan zaman.
IMMawan Fauzan juga menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama ritual yang berkutat pada shalat, puasa, atau membaca doa. Islam membahas seluruh lini kehidupan manusia mulai dari cara bekerja, bersikap, bermasyarakat, hingga tanggung jawab sosial. Menyinggung konsep asma’ wa sifat, sifat dan nama-nama Allah yang seharusnya membuat seorang muslim semakin mengenal Tuhannya. Dengan mengenal Allah, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak, karena kelak segala amal akan dihisab. “Pada hari itu,” katanya, “mulut akan dikunci, dan anggota tubuh kita yang akan bersaksi.” Kalimat ini seketika membuat ruangan sedikit hening, seolah seluruh peserta membayangkan kejadian tersebut.
IMMawan Fauzan menjelaskan bahwa syahadat bukan hanya ucapan saat seseorang masuk Islam, tetapi janji yang dipegang seumur hidup. Syahadat menuntut seseorang untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, bukan sembarang taat, tetapi taat yang memahami sebab akibat. Ketika seseorang bersyahadat, berarti ia sudah menyatakan siap untuk hidup sesuai aturan Allah. Ia juga menyinggung para Khulafaur Rasyidin sebagai teladan generasi setelah Rasulullah. Salah satu kisah yang disebutkan adalah kisah Umar bin Khattab saat berkeliling malam-malam dan menemukan seorang ibu yang memasak batu untuk menghibur anak-anaknya karena tak punya makanan. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pemimpin dalam Islam tidak boleh jauh dari rakyatnya, dan bahwa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya untuk umat tertentu.
Selanjutnya IMMawan Fauzan mengingatkan kembali tujuan penciptaan manusia dan jin dalam QS Adz-Dzariyat ayat 56: untuk beribadah kepada Allah. Karena manusia diberi akal, mereka diberi kebebasan memilih untuk beriman atau tidak. Namun dengan akal itulah seharusnya manusia bisa memahami alasan mengapa memilih Islam. “Pertanyaannya,” ujar IMMawan Fauzan, “apakah kita benar-benar memahami Islam dengan baik?” Ia menjelaskan bahwa pemahaman yang benar akan membantu seseorang terhindar dari pemahaman yang salah, sekaligus memperkuat iman. Ia mengajak peserta untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah di sekitar, memahami sifat-sifat-Nya, dan menyimpulkan sendiri bahwa beriman kepada Allah adalah fitrah sekaligus kebutuhan.
Pada akhir materi, IMMawan Fauzan menutup dengan ajakan untuk mengimplementasikan tauhid dalam kehidupan sehari-hari melalui dua hubungan penting: hablum minallah dan hablum minannas. Hablum minallah dapat dimulai dari hal sederhana seperti menjaga shalat. Sementara hablum minannas diwujudkan dengan menjaga hubungan baik dengan sesama, membantu orang lain, dan menjadi pribadi yang membawa manfaat. Ia juga mengutip perumpamaan seorang muslim yang kuat dalam QS Ibrahim ayat 24–25, sebagai pengingat bahwa iman yang baik akan menghasilkan akhlak yang baik pula.