Menenun Sajadah Digital: Refleksi Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dalam Labirin Society 5.0

 Menenun Sajadah Digital: Refleksi Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dalam Labirin Society 5.0

Oleh: Yusuf Ahnaf Rifa’i

Dunia hari ini tidak lagi hanya terdiri dari tanah dan air, melainkan juga bit dan atom. Kita sedang berpijak di era Society 5.0, sebuah era di mana kecerdasan buatan bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang sering kali mengaburkan batas antara realitas fisik dan imajinasi virtual. Kemajuan ini membawa kita pada sebuah persimpangan peradaban. Di tengah bisingnya algoritma, yang mulai mengatur selera dan perilaku kita, muncul sebuah pertanyaan: di mana posisi nilai agama secara umum dan bagaimana peran islam secara khusus dalam menavigasi arus ini?

Paradoks Global Village dan Spiritualitas Kosmopolitan

Marshall McLuhan pernah memprediksi lahirnya Global Village, sebuah konsep di mana setiap manusia terhubung tanpa sekat akibat karya manusia sekarang ini, yakni tekonologi. Namun, konektivitas digital yang begitu masif ini ternyata menyimpan tantangan besar dengan kedekatan nurani. Andar Nubowo, Ph.D., memberikan catatan bahwa perubahan di era Society 5.0 adalah sebuah keniscayaan yang ditandai dengan percepatan informasi yang luar biasa. Namun, percepatan ini membawa risiko besar yaitu brain rooting.

Brain rooting adalah kondisi di mana otoritas ilmu mulai meluruh dan digantikan oleh arus opini tanpa dasar. Di era ini, siapa pun bisa bicara tentang apa pun tanpa tanggung jawab intelektual, yang pada akhirnya memicu banjir hoaks serta disinformasi. Di sinilah Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan berupaya masuk sebagai penyeimbang. Secara etimologis, kosmopolitan berasal dari bahasa Yunani, kosmos (dunia) dan polis (warga). Menjadi muslim yang kosmopolitan berarti memiliki kesadaran wawasan global dan kebebasan ekspresi dalam komunitas dunia tanpa kehilangan akar iman. Pelajar masa kini harus selalu berupaya memposisikan diri sebagai agen literasi yang berpikiran kritis, bukan sekadar menjadi pemandu sorak di media sosial.


Fungsionalisasi Tauhid dalam Aksi Nyata

Salah satu poin fundamental yang menjadi jangkar dalam menghadapi badai disrupsi adalah pemahaman mengenai Tauhid Rahamutiyah. Konsep yang ditawarkan oleh Hamam Sanadi, Ph.D., ini menekankan bahwa Allah yang Maha Esa telah mewajibkan diri-Nya memiliki sifat dasar rahma (kasih sayang). 

Dalam konteks pelajar, tauhid belum dianggap selesai jika hanya diimplementasikan melalui aktivitas ritual peribadahan di dalam masjid. Tauhid harus bertransformasi menjadi energi fungsional dalam semua kapasitas kehidupan. Hamam Sanadi menawarkan pola "fungsionalisasi ayat" dari Al-Fatihah yang sangat relevan untuk menjaga etos kerja dan moralitas di era sekarang:

Bismillah (In Motion: Dzikir): Menjadi pengingat untuk memulai setiap aktivitas digital, mulai dari membuat konten hingga menyebarkan pesan, agar selalu bernilai ibadah dan bertujuan mulia.

Alhamdulillah (In Motion: Memuji Allah): Sebagai energi syukur yang membuat kita tetap positif dan resilien, baik saat mendapatkan apresiasi (nikmat) maupun saat menghadapi perundungan siber (musibah).

Ar-Rahman Ar-Rahim (In Motion: Mengasihi & Menyayangi): Diterjemahkan menjadi aksi nyata berbuat baik kepada sesama manusia tanpa sekat digital, memperlakukan orang lain dengan martabat.

Maliki yaumiddin (In Motion: Memberi Balasan): Menumbuhkan rasa tanggung jawab bahwa setiap jejak digital kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (In Motion: Hamba yang Lemah): Kesadaran untuk selalu rendah hati, tidak merasa paling benar di ruang publik, dan selalu memohon pertolongan-Nya dalam setiap langkah inovasi.

Navigasi Society 5.0: Feeding, Healing, dan Schooling

Muhammadiyah melalui Risalah Islam Berkemajuan memiliki keyakinan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kemajuan dalam semua aspek kehidupan. Fokus gerakan ini, sebagaimana dijelaskan oleh Hamam Sanadi, tetap berpijak pada trilogi pilar klasik yang kini harus dikontekstualisasikan ulang: Feeding, Healing, dan Schooling.

Di era Society 5.0, ketiga pilar ini harus dikelola dengan manajemen modern yang berbasis data dan teknologi. Feeding tidak lagi hanya soal memberi makan fisik, tapi juga memberi asupan nutrisi informasi yang benar bagi masyarakat yang lapar akan kebenaran. Healing meluas menjadi penyembuhan luka sosial di media sosial, dan Schooling bertransformasi menjadi pendidikan yang memanusiakan manusia di tengah dominasi mesin. 

Andar Nubowo menekankan bahwa transformasi pendidikan dan dakwah digital bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Target besarnya adalah "melembagakan amal shalih". Setiap inovasi yang dibuat oleh pelajar, setiap sistem yang dibangun, tidak boleh hanya berorientasi pada kepemilikan pribadi atau keuntungan material sesaat, melainkan harus diproyeksikan untuk kemaslahatan umat manusia secara luas dan berkelanjutan.

Empat Dimensi Mentalitas Pelajar Berkemajuan

Menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian menuntut pelajar memiliki sikap mental yang tangguh dan berlapis. Ada empat dimensi "genetik" yang perlu dirajut dalam diri setiap aktivis pelajar:

Bio-Genetik: Menyadari bahwa keberadaan kita di organisasi bukan sekadar untuk mencari materi, melainkan sebagai bentuk pengabdian.

Sosio-Genetik: Menggunakan organisasi sebagai basis untuk membangun pengaruh sosial yang positif, bukan sekadar mencari popularitas semu.

Idio-Genetik: Menjadikan gerakan sebagai tempat aktualisasi ideologi, tempat bereksperimen dengan ide-ide baru yang memajukan masyarakat.

Theo-Genetik: Memandang setiap langkah sebagai lahan jihad fii sabilillah, sebuah upaya berkelanjutan untuk menebar ilmu demi kemajuan agama dan bangsa. 

Harapannya, pelajar tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga matang secara spiritual. Mereka harus mampu mengambil peran sebagai content creator dan influencer yang membawa narasi kebaikan, kejujuran, dan kemajuan ke panggung dunia digital yang sering kali riuh oleh konten yang dangkal.

Masa depan Society 5.0 bukanlah sesuatu ancaman, melainkan ruang baru untuk berdakwah secara luas dan inklusif. Menjadi muslim yang kosmopolitan berarti berani melangkah maju, merangkul kemajuan teknologi, dan memastikan bahwa di setiap helai kabel serta gelombang sinyal, nilai-nilai rahmah tetap mengalir deras bagi kemanusiaan global.



Lebih baru Lebih lama