Perubahan
Iklim dan Pemanasan Global: Analisis Dampak Global Warming terhadap
Kehidupan Manusia
Oleh : Raditya Rafif Prabowo
Perubahan
iklim dan global warming merupakan masalah penting yang terjadi di
seluruh negara, termasuk Indonesia. Indonesia
yang dikenal dengan negara maritim memiliki lautan yang sangat luas, luasnya
laut atau perairan yang dimiliki oleh Indonesia dapat memberikan efek terhadap
masalah global warming dan perubahan iklim yang terjadi. Indonesia
merupakan negara yang mengalami perubahan iklim cukup pesat, gaya hidup dan
kebutuhan pada masyarakat zaman sekarang yang serba instan serta seringnya
penggunaan teknologi merupakan faktor penyebab global warming di
Indonesia.
Global
warming dapat dideskripsikan sebagai bertambahnya suhu
rata-rata yang terjadi di bumi pada beberapa tahun terakhir yang diperkirakan
akan terus berlanjut dan bertahan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.Permasalahan
global warming di
seluruh dunia menjadi permasalahan utama yang tidak bisa dihindari untuk
kelangsungan hidup manusia di seluruh belahan dunia. Dampak negatif dapat
ditimbulkan dari masalah global warming ini, seperti bongkahan es di
Kutub Utara yang mencair dan bertambahnya volume air serta adanya gelombang
panas yang menganggu pola iklim.
Permasalahan
ini menjadi sangat penting untuk dikaji karena dampaknya yang dapat dirasakan
oleh semua manusia di seluruh dunia, baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun
sosial.Oleh karna itu,
artikel ini bertujuan untuk membahas penyebab perubahan iklim, dampak yang
ditimbulkan, serta upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi masalah global
warming.
Global
warming dan perubahan iklim ditandai dengan beberapa ciri
umum, seperti suhu bumi yang terus meningkat, cuaca ekstrem, serta meningkatnya permukaan air laut dan
masih banyak ciri atau gejala yang tidak bisa kita anggap sebagai masalah
sederhana. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan masalah dan kerugian terhadap
lingkungan saja, tetapi kondisi tersebut berdampak ke berbagai sektor. Salah
satu sektor yang terdampak akan perubahan iklim adalah kesehatan dan gizi. Menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Frekuensi dan
intensitas terjadinya bencana alam meningkat dan makin memburuk akibat
perubahan iklim, tentunya hal itu dapat menciptakan ancaman serius terdahap
keamanan dan keselamatan masyarakat di belahan dunia manapun serta dapat
menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Perubahan
iklim juga memperburuk sumber daya pangan yang terjadi akibat kemarau
berkepanjangan, selain itu kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah, variasi,
dan kualitas makanan yang dapat diakses
oleh masyarakat di Indonesia, terutama anak-anak yang masih memerlukan gizi
untuk tumbuh kembang. Risiko kurangnya sumber pangan ini dapat mengakibatkan
ganguan kesahatan, salah satunya adalah malnutrisi. Malnutrisi pada anak masih
menjadi masalah kesehatan global yang mendesak di seluruh dunia, sekitar 148
juta anak di bawah usia lima tahun menderita stunting, 45 juta jiwa mengalami
wasting, dan sekitar 269 juta mengalami anemia.
Berdasarkan
laporan dari United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada
tahun 2024 terdapat peningkatan beban gizi di Indonesia yang terjadi akibat
krisis iklim atau perubahan iklim melalui beberapa mekanisme kunci, yaitu:
1.
Gangguan
sistem pangan: peningkatan temperatur atau suhu di lingkungan berdampak
terhadap penurunan hasil pertanian dan perkebunan sebagai pemasok komoditas
pangan yang berakibat menggangu rantai pasok.
2. Kesehatan
dan penyakit: terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit
menular seperti banjir dan curah hujan yang ekstrem, peristiwa tersebut dapat
meningkatkan risiko penyakit seperti malaria, diare, dan demam berdarah.
3. Beban
pengasuhan: Perubahan iklim dapat
meningkatkan beban kerja yang dialami oleh orang tua, seperti mencari air atau
mengelola lahan pertanian yang dapat menimbulkan resiko pengurangan waktu dan
kualitas praktik pemberian pangan pada anak.
Menurut Children’s Climate Risk Index (CCRI) Indonesia berada di peringkat tiga teratas dengan risiko iklim tertinggi bagi anak-anak, tentu hal ini menjadikan Indonesia menjadi negara yang rentan terhadap perubahan iklim khususnya bagi anak-anak. Analisis spasial mengungkapkan keberadaan “hot spot” atau titik panas, yaitu area yang mengalami tumpeng tindih antara kerentanan terhadap bencana iklim dan pravelensi malnutrisi yang tingi.salah satu provinsi yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dikategorikan memiliki risiko sangat tinggi dan diikuti oleh beberapa wilayah di Indonesia timur seperti Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat dengan risiko yang tinggi juga.
Gambar
1.1 Peta kerentanan hot spot di Indonesia (researchgate.net)
Strategi
menanggulangi dampak perubahan iklim terhadap gizi anak dapat dilakukan dengan
pendekatan yang komprehensif. Pendekatan tersebut dapat dimuali dari
aspek respon, adaptasi, hingga mitigasi dan tranformasi sistem, pendekatan ini
dinilai sangat penting agar penanganan dapat lebih efektif dan tidak bersifat
jangka pendek, tetapi juga dapat berkelanjutan dalam jangka waktu yang Panjang
sehingga diharapkan dapat dapat menangani masalah krisis iklim yang terjadi di
seluruh wilayah.
Penekanan
terhadap upaya adaptasi difokuskan pada penyusunan
intervensi yang tepat sasaran berdasarkan tingkat kerentanan iklim. Sementara
itu, Langkah mitigasi dan tranformasi dengan cara mengintegrasikan isu
perubahan iklim sebagai acuan penetapan kebijakan gizi nasional, langkah
tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi
ketergantungan pada produk cepat saji yang tidak sehat.
Seluruh
strategi harus diperkuat dengan faktor-faktor pendukung seperti sistem data
pemantauan dampak perubahan iklim yang terjadi dengan pengaruhnya terhadap gizi
secara kontinu, agar dapat menjadi acuan untuk pengambilan langkah untuk
penanggulangan krisis iklim. Penerapan pembiayaan iklim sensitif
terhadap gizi juga diperlukan guna menjamin anak-anak di masa yang akan datang.
Referensi
Ainurrohmah, S., & Sudarti, S. (2022). Analisis perubahan iklim dan
global warming yang terjadi sebagai fase kritis. Jurnal Phi: Jurnal Pendidikan Fisika dan
Fisika Terapan, 8(1), 1-10.
Andarini, S. Y., & Sudarti,
S. (2023). Analisis efek global warming terhadap perubahan iklim. Jurnal Phi: Jurnal Pendidikan Fisika dan Fisika Terapan,
9(2), 31-38.
Susanto,
J., Biantara, I., Sumarlie, F., Afnita, N., Sukendro, S. J., & Pramana, C.
(2026). Dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat: Systematic
literature review. Klinik: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan,
5(1), 554–562. https://doi.org/10.55606/klinik.v5i1.5735
UNICEF.
(2024). Perubahan iklim dan gizi di Indonesia: Tinjauan bukti untuk
penguatan kebijakan dan program. United Nations Children's Fund.